Low Carb Punya Efek Mengejutkan, Lemak Hati Ikut Berubah

Low Carb Punya Efek Mengejutkan, Lemak Hati Ikut Berubah

Loves Diet – Diet rendah karbohidrat atau low carb biasanya dikaitkan dengan penurunan berat badan. Namun, efeknya ternyata dapat menjangkau organ yang jarang diperhatikan saat seseorang mulai berdiet, yaitu hati. Sejumlah penelitian menemukan bahwa pembatasan karbohidrat dapat berkaitan dengan penurunan lemak hati pada orang dengan kelebihan berat badan atau gangguan metabolik. Kondisi penumpukan lemak di hati kini sering disebut metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease atau MASLD. Menariknya, perubahan lemak hati dalam beberapa penelitian dapat muncul ketika komposisi makanan diubah. Meski begitu, efek tersebut tidak berarti semua pola low carb memberikan hasil yang sama. Jenis lemak, asupan kalori, kualitas makanan, serta kondisi kesehatan seseorang ikut menentukan hasil akhirnya. Karena itu, low carb lebih tepat dilihat sebagai salah satu pendekatan nutrisi yang potensial, bukan sebagai solusi tunggal untuk masalah lemak hati.

Baca Juga: Sering Melihat Bintik Melayang di Mata, Apakah Kondisi Ini Normal?

Mengapa Karbohidrat Bisa Berkaitan dengan Lemak Hati?

Hubungan antara karbohidrat dan lemak hati cukup kompleks. Setelah dikonsumsi, karbohidrat akan dipecah menjadi glukosa yang digunakan tubuh sebagai sumber energi. Namun, ketika pasokan energi terus berlebih, sebagian substrat dapat berkontribusi pada pembentukan lemak baru di hati melalui proses yang dikenal sebagai de novo lipogenesis. Proses ini menjadi lebih relevan pada orang dengan resistensi insulin dan gangguan metabolik. Oleh karena itu, mengurangi karbohidrat tertentu dapat mengubah aliran energi yang masuk ke hati. Penelitian juga menunjukkan bahwa pembatasan karbohidrat dapat memperbaiki beberapa parameter metabolik, seperti trigliserida, berat badan, dan resistensi insulin pada sebagian pasien MASLD. Meski demikian, karbohidrat tidak boleh dianggap sebagai satu-satunya penyebab. Kelebihan energi, obesitas, aktivitas fisik, genetika, serta kualitas pola makan secara keseluruhan tetap memiliki pengaruh besar terhadap penumpukan lemak di hati.

Perubahan Lemak Hati Bahkan Bisa Terjadi Relatif Cepat

Salah satu temuan menarik datang dari penelitian terkontrol yang mengamati efek pembatasan karbohidrat dalam waktu sangat singkat. Dalam studi tersebut, 15 peserta dengan kelebihan berat badan atau obesitas menjalani beberapa intervensi makanan. Ketika konsumsi karbohidrat dibatasi sekitar 60 gram per hari dalam pola rendah karbohidrat tinggi lemak dengan energi yang dipertahankan, kadar lemak hati terukur lebih rendah dibandingkan diet kontrol. Penelitian tersebut hanya berlangsung dalam hitungan hari sehingga hasilnya tidak dapat langsung diterjemahkan menjadi manfaat jangka panjang. Namun, temuan ini menunjukkan bahwa lemak hati merupakan komponen metabolik yang cukup dinamis. Artinya, hati dapat merespons perubahan komposisi makanan dengan relatif cepat. Di sisi lain, penelitian itu juga menemukan perubahan respons glukosa setelah makan. Karena itu, hasil tersebut justru menegaskan bahwa efek diet perlu dilihat secara menyeluruh, bukan hanya melalui satu indikator kesehatan.

Bukti Jangka Panjang Memberikan Gambaran Lebih Menarik

Efek low carb tidak hanya diamati dalam eksperimen singkat. Sebuah uji acak terkontrol terhadap 150 orang dengan prediabetes atau diabetes tipe 2 membandingkan pola rendah karbohidrat yang kaya lemak tak jenuh ganda, healthy Nordic diet, dan perawatan biasa selama 12 bulan. Hasilnya, kelompok rendah karbohidrat tersebut mengalami penurunan lemak hati sekitar 1,46 poin persentase lebih besar dibandingkan perawatan biasa. Namun, healthy Nordic diet juga memberikan penurunan sekitar 1,76 poin persentase dibandingkan perawatan biasa. Tidak ditemukan perbedaan bermakna pada lemak hati antara kedua pola diet tersebut. Bahkan, pola Nordic memberikan manfaat tambahan pada berat badan, HbA1c, trigliserida, inflamasi, dan enzim hati. Temuan ini penting karena menunjukkan bahwa pembatasan karbohidrat bukan satu-satunya jalan. Kualitas keseluruhan pola makan tetap menjadi faktor yang sangat menentukan.

Low Carb Bukan Berarti Bebas Mengonsumsi Semua Lemak

Kesalahan yang cukup sering terjadi adalah menganggap low carb sebagai izin untuk mengganti seluruh karbohidrat dengan makanan tinggi lemak jenuh. Padahal, komposisi lemak tetap penting. Pola rendah karbohidrat dalam penelitian tidak selalu identik dengan konsumsi daging berlemak, mentega, atau makanan ultra-proses secara bebas. Sebaliknya, beberapa intervensi justru menekankan sumber lemak tak jenuh, protein berkualitas, sayuran, serta makanan minim proses. Meta-analisis terhadap uji terkontrol pada pasien dengan penyakit hati berlemak metabolik juga mengingatkan bahwa asupan lemak jenuh yang tinggi dapat mengurangi keuntungan terhadap profil kolesterol. Oleh sebab itu, kualitas makanan seharusnya menjadi perhatian utama. Sumber lemak seperti ikan, kacang-kacangan, biji-bijian, alpukat, dan minyak nabati tak jenuh dapat menjadi pilihan yang lebih masuk akal dibandingkan menjadikan makanan tinggi lemak jenuh sebagai fondasi diet.

Berat Badan Tetap Menjadi Bagian Penting Ceritanya

Low carb sering menghasilkan penurunan berat badan karena pola tersebut dapat membantu sebagian orang mengurangi asupan energi. Pada saat yang sama, penurunan berat badan sendiri dapat memberikan dampak positif terhadap lemak hati. Sebuah meta-analisis terbaru terhadap sembilan uji acak dengan total 408 pasien melaporkan bahwa pola rendah karbohidrat berkaitan dengan perbaikan beberapa parameter, termasuk berat badan, lingkar pinggang, indeks massa tubuh, trigliserida, glukosa puasa, dan resistensi insulin. Namun, hasil terhadap lemak hati dan indikator hati lainnya tidak selalu konsisten pada setiap durasi maupun jenis diet. Hal ini membuat interpretasinya lebih menarik. Manfaat yang terlihat kemungkinan berasal dari kombinasi perubahan komposisi makanan, penurunan berat badan, perbaikan sensitivitas insulin, serta perubahan keseimbangan energi. Jadi, sekadar menghitung gram karbohidrat belum cukup untuk menilai apakah sebuah diet benar-benar sehat.

Tidak Semua Karbohidrat Perlu Dipandang Sama

Ada perbedaan besar antara karbohidrat dari minuman manis dan makanan ultra-proses dengan karbohidrat dari sayuran, kacang-kacangan, buah utuh, atau biji-bijian utuh. Karena itu, pendekatan low carb yang baik tidak harus berubah menjadi pola makan tanpa karbohidrat. Dalam praktik sehari-hari, strategi yang lebih realistis dapat dimulai dengan mengurangi gula tambahan, minuman berpemanis, camilan ultra-proses, serta porsi karbohidrat olahan yang berlebihan. Setelah itu, ruang makan dapat diisi dengan protein berkualitas, sayuran, sumber lemak tak jenuh, dan karbohidrat kaya serat sesuai kebutuhan. Pendekatan seperti ini cenderung lebih mudah dipertahankan dibandingkan pembatasan ekstrem. Selain itu, pola makan yang bisa dijalankan dalam jangka panjang biasanya lebih bernilai daripada diet sangat ketat yang hanya bertahan beberapa minggu. Dalam kesehatan metabolik, konsistensi sering kali sama pentingnya dengan komposisi makronutrien.

Penelitian Terbaru Memperkuat Sinyal Perubahan Lemak Hati

Kajian sistematis terbaru terhadap diet dengan pembatasan karbohidrat pada individu dengan kelebihan berat badan dan obesitas menemukan penurunan lemak visceral serta lemak hati setelah intervensi. Pola dengan karbohidrat sangat rendah juga menunjukkan hasil yang cukup kuat pada beberapa analisis. Sementara itu, penelitian lain pada orang dengan obesitas metabolik tidak sehat menemukan bahwa diet sangat rendah karbohidrat menghasilkan penurunan trigliserida intrahepatik dan pembentukan lemak baru di hati yang lebih besar setelah penurunan berat badan yang disamakan dengan kelompok pembanding. Meski demikian, temuan tersebut tidak berarti setiap orang perlu menjalani diet ketogenik. Penelitian nutrisi sangat dipengaruhi karakteristik peserta, durasi intervensi, komposisi makanan, dan kepatuhan. Karena itu, hasil penelitian sebaiknya digunakan untuk memahami pilihan terapi nutrisi, bukan untuk membuat aturan diet yang berlaku sama bagi semua orang.

Low Carb Tetap Harus Disesuaikan dengan Kondisi Individu

Respons terhadap low carb dapat berbeda dari satu orang ke orang lain. Seseorang dengan diabetes yang menggunakan insulin atau obat penurun gula darah, misalnya, perlu lebih berhati-hati karena perubahan besar pada asupan karbohidrat dapat memengaruhi kadar glukosa dan kebutuhan obat. Hal serupa berlaku bagi orang dengan penyakit ginjal, gangguan hati yang sudah lanjut, kehamilan, atau kondisi medis tertentu. Karena itu, perubahan pola makan yang sangat ketat sebaiknya dibicarakan dengan dokter atau ahli gizi. Selain itu, keberhasilan memperbaiki kesehatan hati tidak hanya bergantung pada makanan. Aktivitas fisik, tidur, pengelolaan berat badan, konsumsi alkohol, dan kesehatan metabolik secara keseluruhan juga memiliki peran. Pada akhirnya, temuan tentang low carb dan lemak hati menunjukkan sesuatu yang lebih luas: hati sangat responsif terhadap pola hidup, tetapi strategi terbaik tetap harus mempertimbangkan keamanan, kualitas makanan, dan kebutuhan setiap individu.

Nafisa Maira
https://lovesdiet.com/