Diet Paleo Diuji pada Atlet, Mikrobioma Usus Jadi Sorotan Baru

Diet Paleo Diuji pada Atlet, Mikrobioma Usus Jadi Sorotan Baru

Loves DietDiet Paleo pada atlet kembali menarik perhatian setelah sebuah studi terbaru menempatkan mikrobioma usus sebagai salah satu fokus utama. Penelitian yang terbit di Frontiers in Microbiology pada Agustus 2026 itu melibatkan 10 pemain handball profesional pria. Para peneliti membagi peserta secara acak menjadi dua kelompok. Lima atlet mengikuti pola Paleo, sedangkan lima lainnya menjalani pola makan rasional sebagai pembanding. Intervensi berlangsung selama delapan minggu. Menariknya, makanan untuk kedua kelompok disiapkan dan dikirim oleh perusahaan katering. Dengan demikian, pola konsumsi dapat dikendalikan lebih baik daripada sekadar mengandalkan catatan makanan peserta. Sampel feses kemudian dikumpulkan pada awal penelitian, minggu keempat, dan minggu kedelapan. Peneliti memakai analisis metagenomik untuk melihat komposisi serta potensi fungsi mikrobioma. Hasilnya tidak menunjukkan perubahan dramatis akibat Paleo. Namun, justru temuan tersebut membuka pembicaraan baru tentang hubungan diet, atlet, dan kesehatan usus.

Baca Juga: Kulit Terlihat Lebih Kusam? Ini Kebiasaan Harian yang Bisa Menjadi Penyebabnya

Mengapa Mikrobioma Usus Penting bagi Seorang Atlet?

Selama bertahun-tahun, pembahasan nutrisi olahraga lebih sering berpusat pada protein, karbohidrat, hidrasi, dan kalori. Kini, mikrobioma usus mulai masuk ke dalam percakapan tersebut. Komunitas mikroorganisme di saluran pencernaan berhubungan dengan metabolisme, sistem imun, dan fungsi gastrointestinal. Selain itu, mikroba usus menghasilkan berbagai metabolit, termasuk asam lemak rantai pendek atau short-chain fatty acids. Karena itu, pola makan atlet tidak hanya menyediakan energi bagi otot. Makanan juga menyediakan substrat bagi mikroorganisme yang hidup di usus. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa hubungan antara olahraga, diet, dan mikrobioma sangat kompleks. Bahkan, sulit memisahkan pengaruh latihan dari pengaruh makanan secara sempurna. Oleh sebab itu, studi Paleo terbaru terasa relevan. Penelitian tersebut mencoba melihat diet bukan hanya melalui berat badan atau performa. Sebaliknya, para ilmuwan mulai memeriksa apa yang terjadi pada ekosistem mikroba di dalam tubuh atlet.

Delapan Minggu Diet Paleo Tidak Mengubah Mikrobioma Secara Dramatis

Salah satu temuan paling menarik justru datang dari perubahan yang tidak terjadi. Selama delapan minggu, peneliti tidak menemukan perubahan mikrobioma yang signifikan secara statistik pada kelompok Paleo dalam analisis longitudinal. Kekayaan mikrobioma secara keseluruhan juga relatif stabil pada tingkat kelompok. Sementara itu, kelompok diet rasional memperlihatkan beberapa perubahan taksonomi dan fungsi tertentu. Misalnya, peneliti menemukan penurunan Lactococcus petauri dan Weissella cibaria dibandingkan kondisi awal. Selain itu, jalur degradasi stachyose mengalami pengayaan pada kelompok tersebut. Meski demikian, hasil ini tidak berarti diet rasional otomatis lebih baik. Hasil tersebut juga tidak membuktikan Paleo lebih unggul. Sebaliknya, penelitian menunjukkan bahwa mikrobioma atlet mungkin cukup stabil dalam periode intervensi yang relatif pendek. Ukuran sampel yang sangat kecil juga membuat perubahan kecil atau sedang lebih sulit terdeteksi. Karena itu, temuan ini sebaiknya dibaca sebagai sinyal awal, bukan keputusan akhir.

Respons Setiap Atlet Ternyata Sangat Berbeda

Di balik angka rata-rata kelompok, ada cerita lain yang jauh lebih menarik. Para peneliti menemukan variasi mikrobioma yang besar antarindividu. Kelimpahan relatif beberapa spesies bahkan berbeda lebar dari satu peserta ke peserta lain. Bifidobacterium adolescentis, misalnya, berada pada rentang 0 hingga 37,9 persen. Sementara itu, Prevotella copri clade A berada pada rentang 0 hingga 25,4 persen. Variasi juga terlihat pada Ruminococcus bromii dan Faecalibacterium prausnitzii. Temuan tersebut menunjukkan mengapa pendekatan nutrisi yang sama belum tentu menghasilkan respons biologis identik pada setiap atlet. Kondisi awal mikrobioma, kebiasaan makan, lingkungan, latihan, dan banyak faktor lain dapat ikut berperan. Dari sudut pandang nutrisi olahraga, bagian ini sangat penting. Diet yang terlihat ideal di atas kertas belum tentu memberikan respons yang sama pada dua orang. Karena itu, personalisasi nutrisi kemungkinan akan menjadi arah penelitian yang semakin penting.

Karbohidrat Lebih Rendah Menjadi Catatan Penting

Paleo umumnya mengutamakan daging, ikan, telur, buah, sayuran, dan kacang-kacangan tertentu. Sebaliknya, pola ini membatasi atau menghilangkan sejumlah sumber pangan modern, termasuk biji-bijian dan produk susu. Dalam studi terbaru, kelompok Paleo mengonsumsi karbohidrat lebih rendah dibandingkan kelompok diet rasional. Asupan lemak mereka justru lebih tinggi, termasuk proporsi lemak tak jenuh yang lebih besar. Peneliti juga melaporkan bahwa rekomendasi asupan karbohidrat tidak tercapai pada kelompok Paleo. Kondisi ini layak diperhatikan karena kebutuhan karbohidrat atlet dapat meningkat sesuai jenis, durasi, dan intensitas latihan. Studi lain pada 14 atlet endurance pria juga menemukan bahwa Paleo selama enam minggu tidak memberikan keunggulan performa yang jelas dibandingkan pola makan campuran ketika keduanya dikombinasikan dengan latihan interval sprint. Kedua kelompok sama-sama mengalami peningkatan pada sejumlah tes performa. Jadi, membatasi sumber karbohidrat tidak otomatis menghasilkan keuntungan kompetitif bagi atlet.

Serat Tetap Tinggi, tetapi Kalsium Menjadi Perhatian

Ada anggapan bahwa pola Paleo selalu identik dengan rendah serat. Studi ini menunjukkan gambaran yang lebih bernuansa. Asupan serat ternyata tinggi pada kedua kelompok. Hal tersebut masuk akal jika pola Paleo banyak memanfaatkan buah dan sayuran. Namun, ada sisi lain yang perlu diperhatikan. Asupan vitamin D dinilai tidak mencukupi pada kedua pola diet. Selain itu, kelompok Paleo mengalami kekurangan asupan kalsium. Temuan tersebut penting karena eliminasi kelompok makanan tertentu dapat mempersulit pemenuhan mikronutrien apabila menu tidak dirancang dengan cermat. Bagi atlet, persoalan nutrisi tidak berhenti pada jumlah kalori atau protein. Kualitas dan kelengkapan zat gizi juga perlu diperhatikan. Karena itu, penerapan Paleo dalam olahraga sebaiknya tidak sekadar mengikuti daftar makanan yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi. Perencanaan menu perlu mempertimbangkan kebutuhan individu, beban latihan, serta kecukupan mikronutrien secara keseluruhan.

Diet Sehat Tidak Cukup Dinilai dari Satu Jenis Bakteri

Mikrobioma usus sangat kompleks. Oleh sebab itu, munculnya satu bakteri tertentu tidak bisa langsung diterjemahkan sebagai tanda diet yang lebih sehat. Peneliti saat ini juga memperhatikan fungsi mikroba dan metabolit yang dihasilkan. Pada atlet, pendekatan tersebut semakin relevan karena latihan sendiri dapat memengaruhi lingkungan usus. Sebuah tinjauan mengenai diet dan mikrobiota atlet menyebut serat yang cukup, variasi sumber protein, serta lemak tidak jenuh sebagai faktor yang menjanjikan untuk mendukung kesehatan mikrobioma. Sebaliknya, pola makan tinggi protein atau karbohidrat sederhana yang disertai rendah serat dapat menjadi masalah dalam konteks tertentu. Namun, bukti ilmiah belum cukup kuat untuk membuat resep mikrobioma yang berlaku bagi semua atlet. Dengan kata lain, tujuan nutrisi bukan mengejar satu bakteri “baik”. Fokus yang lebih masuk akal adalah menjaga pola makan beragam, cukup energi, kaya sumber serat, dan sesuai dengan tuntutan latihan.

Diet Paleo Belum Bisa Disebut Rahasia Baru Performa Atlet

Jika hanya membaca tren kebugaran, Paleo mungkin terlihat seperti strategi yang sederhana. Makan makanan minim proses, hindari kelompok pangan tertentu, lalu berharap komposisi tubuh dan performa membaik. Namun, penelitian pada atlet memberikan gambaran yang lebih rumit. Studi enam minggu pada atlet endurance pria memang menemukan penurunan berat badan, massa lemak, dan tekanan darah pada kelompok Paleo. Akan tetapi, peningkatan performa terjadi pada kedua kelompok tanpa perbedaan signifikan antarkelompok dalam tes performa tersebut. Para peneliti akhirnya menyatakan Paleo belum dapat direkomendasikan tanpa batasan bagi atlet endurance sehat berdasarkan hasil performa yang mereka temukan. Studi mikrobioma 2026 menambahkan lapisan baru pada persoalan ini. Paleo tidak menyebabkan perubahan besar pada mikrobioma selama delapan minggu. Jadi, manfaat ataupun kekurangannya tidak bisa disederhanakan menjadi klaim bahwa pola tersebut pasti meningkatkan kesehatan usus atau performa. Bukti yang tersedia masih membutuhkan pengujian lebih luas.

Mikrobioma Membuka Era Nutrisi Atlet yang Lebih Personal

Hal paling menarik dari penelitian ini mungkin bukan pertanyaan apakah Paleo menang atau kalah. Justru, variasi respons antarindividu memperlihatkan betapa personalnya hubungan antara makanan dan mikrobioma. Penelitian tersebut hanya melibatkan 10 atlet pria dari cabang handball. Karena itu, hasilnya belum bisa digeneralisasi kepada atlet wanita, pelari maraton, pesepak bola, binaragawan, atau masyarakat umum. Para peneliti juga mengakui perlunya studi dengan jumlah peserta lebih besar, durasi lebih panjang, serta pengukuran tambahan seperti metabolomik dan short-chain fatty acids. Dari sini, arah riset terlihat semakin menarik. Nutrisi olahraga masa depan mungkin tidak hanya menghitung gram protein dan karbohidrat. Data mikrobioma, metabolisme, jenis latihan, toleransi gastrointestinal, dan kebutuhan energi dapat ikut dipertimbangkan. Untuk saat ini, Paleo tetap merupakan salah satu pola makan yang dapat dipelajari. Namun, bukti terbaru belum menunjukkan bahwa pola tersebut merupakan formula universal bagi performa maupun mikrobioma atlet.

Nafisa Maira
https://lovesdiet.com/